www.lazada.com

Kesimpulan / Penutup

Posted 02/22/2014 By edho65

Setelah kita mengikuti Risalah kecil ini tentang Riwayat Sejarah Kerajaan Tulang Bawang, maka kita dapat mengambil suatu Kesimpulan sebagai berikut :

  1. Tempat Keraton Kerajaan Tulang Bawang diperkirakan disekitar Pendukuhan.
  2. Raja Tulang Bawang yang pertama diperkirakan MAULANO AJI/ MAULANA HAJI Tahun 623 M.
  3. Raja Tulang Bawang yang terakhir adalah MINAK PATI PEJURIT gelar MINAK KEMALA BUMI.
  4. Adat Imigrasi / Transmigrasi sudah ada sejak zamannya Kerajaan Tulang Bawang.
  5. Demokrasi dan Hak Azazi Manusia sudah ada sejak Zamannya Minak Kemala Bumi.
  6. Penyebaran Agama Islam di Lampung adalah MINAK KEMALA BUMI.
  7. Hubungan antara Lampung dengan Banten, Lampung dengan Palembang, Pagar Dewa Tulang Bawang dengan Kedamaian Balau sudah ada sejak zamannya MINAK KEMALA BUMI.
  8. Pulau Pejurit didekat Tanjung Tua diperkirakan berasal dari nama MINAK PATI PEJURIT.
  9. Kampung Mesir, Jeddah, dan Madinah adalah MINAK PATI PEJURIT pendirinya dan yang menamainya ( Menurut Buku Kewarganegaraan Negara Karangan Basati dkk )
  10. Penyampaiannya cita-cita Minak Kemala Bumi pada abad ke XX dibidang Demokrasi melalui Adat adalah Raja Tegamo’an dan di bidang Agama Islam melalui pendidikan adalah Kiyai Hi. UMAR MURAD.
Be the first to comment
    

Kita baru saja membicarakan peninggalan-peninggalan Kerajaan Tulang Bawang, sekarang kita beralih kepada peninggalan-peninggalan Minak Kemala Bumi. Peninggalan-peninggalan Minak Kemala Bumi ini tidak banyak tapi cukup memberikan arti dan pengertian kepada kita yang ditinggalkan beliau sampai pada zaman-zaman yang mendatang.

Antara lain peninggalan-peninggalan beliau adalah :

  1. Agama Islam
  2. Hak Azazi Manusia
  3. Demokrasi
  4. Keturunan / Kebudayaan

 

Agama Islam adalah Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Lebih kurang pada XIV abad yang liwat, ajaran ini dibawa oleh junjungan kita Muhammad Rasullulah SAW. Bukan untuk sekelompok manusia, bukan untuk satu massa atau satu zaman, Agama ini adalah untuk seluruh Umat Manusia di Dunia ini dan untuk setiap zaman sampai hari Kiamat.

Pada tahun 1554/1555 Minak Kemala Bumi mendatangi tempat lahirnya Agama Islam dan tempat kelahiran pembawa Agama ini yaitu Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah. Di kota ini Minak Kemala Bumi memancarkan sinar Agama Islam ke Lampung, dimana sampai pada dewasa ini Rakyat Lampung hampir V abad digembleng dan dididik oleh Agama pengatur  Dunia dan pengatur Akhirat.

Read the remainder of this entry »

Be the first to comment
    
tranmigrasi

lahan tranmigrasi di tulang bawang barat

Bagi Rakyat  Tulang Bawang terjadinya Transmigrasi yang ada didaerah ini sekarang bukanlah suatu hal yang aneh dan baru, Transmigrasi/Imigrasi di daerah Tulang Bawang sudah dikenal sejak perpindahan Bangsa Hindu pada abad ke V M yang lebih kurang sudah 15 abad yang silam.

Oleh karena itu bagi Rakyat dan daerah ini tidak lagi terkejut, apakah lagi menjadi keheranan atas adanya Transmigrasi sekarang ini yang secara besar-besaran dibuka di daerah Tulang Bawang. Memang pada dasarnya Transmigrasi dahulu dan Transmigrasi sekarang terdapat perbedaan-perbedaan, namun demikian bukan itu yang menjadi persoalan.

Read the remainder of this entry »

Be the first to comment
    

Pagardewa dengan Marga Tegamoan

Posted 02/22/2014 By edho65
pagardewa

Suasana Tiuh Tohou Pagardewa

Pagardewa dengan Marga Tegamoan seolah-olah memonopoli dalam jalannya Kisah Kerajaan Tulang Bawang? mungkin timbul pertanyaan dalam hati para pembaca. Apakah penulis dari Kerajaan Tulang Bawang ini adalah orang PagarDewa dan Marga Tegamoan, atau penulisnya didalangi oleh tokoh Marga Tegamoan dan pemuka-pemuka Kampung Pagar Dewa? Tidak demikian yang sebenarnya.

Dalam mengisahkan suatu Cerita lebih-lebih cerita itu berbau urusan sejarah, si pengarang harus sportif dan satria dalam membentang cerita yang sebenarnya, dikarenakan sudah demikian halnya, maka dalam cerita ini terpaksa yang sebenarnya lah yang harus diutarakan.

Read the remainder of this entry »

Be the first to comment
    

Adat Pepadun Megou Pak ( Marga Empat )

Posted 02/22/2014 By edho65

pepadun megou pakAdat Pepadun Megou Pak  kelihatannya sangat Demokratis sekali, justru itu dalam pelaksanaannya dan pemakain Adatnya tidak begitu disiplin seperti yang terdapat pada Adat Pepadun didaerah-daerah lainnya di Lampung. Disini memakai istilah Perabung/Dirabung segala yang menyangkut dengan uang-uang adat, maksudnya agar tidak begitu sulit dan berliku-liku dalam pelaksanaannya ia berpedoman “Lancar , Cermat, dan Selamat”.

Demikian tentang uang Adat tidak dipergunakan peng Kursan atau Penyesuai uang, misalnya terdengar istilah Empat Likur ratus (PAK LIKUR GATUS) atau Rp.2.400,– Wobelas Gatus atau Rp.1.200,– dan Enam Gatus atau Rp.600,– ini mata uang Zaman Belanda, kalau di Kurs dengan uang kita sekarang, maka setidak-tidaknya Rp.2.400,– menjadi Rp.2.400.000,–. Rp.1.200,– menjadi Rp.1.200.000,– dan Rp.600,– menjadi Rp.600.000,–.

Mengapa sampai tidak diadakan pengkursan,diatas telah di katakan Adat Pepadun Megou pak  ini sangat demokratis segala yang dapat di mudahkan di permudah, agar orang-orang yang lemah keuangannya dapat mengikuti adat  jangan sampai mereka tidak dapat mengikuti atau menikmati adat yang sudah menjadi waris kita bersama. Kalau dengan angka-angka di atas jelas yang dapat menjadi seorang seorang penyimbang dapat di hitung dengan jari,demikian juga kalau jujur seorang gadis dengan angka-angka di atas jelas banyak bujang tua di Mego Pak (Menganai Tohou).

Read the remainder of this entry »

Be the first to comment
    

adat pepadunAdat pepadun Abung sewou megou al : 1.Unyai, 2. Unyi, 3. Nuban, 4. Beliuk, 5. Kunang, 6. Anak Tuho, 7. Selagai, 8. Nyerupa, dan 9. Subing bahkan dari Marga Subing ini yang paling terkenal SUBING menduduki nomor urut 4 karena ia dari keturunan laki-laki.Unyai mengikuti WAY RAREM, UNYI mengikuti WAY SEPUTIH, NUBAN mengikuti WAY BATANG HARI, dan SUBING mengikuti WAY PENGUBUAN TERBANGGI.

Dapat dikatakan ADAT PEPADUN ABUNG SEWOU MEGO ini sangat fanatik sekali/keras, disiplin dan terikat sekali dalam pelaksanaan dan penggunaan daripada ADAT. Terbukti dalam peng kurs uang jujur, uang adat, mereka sebenarnya tidak mengenal istilah Perabungan atau mereka akan melakukan suatu hajatan peralatan perkawinan harus dibuat dikampung asal mereka.

Hanya kalau mereka berhadapan dengan MEGO PAK, mereka terpaksa mengikuti cara-cara MEGO PAK, yang mengenal PERABUNGAN, yang tidak mengadakan peng KURS uang, yang dimana tempat boleh diadakan Hajat/Upacara Perkawinan. Demikin juga terhadap PUBIAN TELU SUKU, yang dapat dikatakan hampir sama disiplinnya dengan ABUNG SEWO MEGO.

Namun demikian garis besarnya sama-sama yang memakai Adat Pepadun, hanya perbedaannya ini dalam pelaksanaan pemakaian dan pengguna dari pada ADAT yang merupakan hal-hal yang bukan prinsipil.

ADAT PEPADUN PUBIAN TELU SUKU
terbagi  menjadi 3 suku/marga :
1.SUKU MASYARAKAT
2.TAMBAK PUPUS  dan
3.BUKU JADI

DAERAH MASYARAKAT / TAMBAK PUPUS :

Meliputi Kecamatan Kedaton, Kecamatan Gedung Tataan dan Kecamatan Pegelaran dengan Marganya MARGA WAY SEMAH dan MARGA BALAU.
BUKU JADI meliputi Kecamatan Natar yang berpusat di TEGINENENG/RULUNG LOK dan mempunyai 5 paksi:

1.PAKSI RULUNG LOK
2.PAKSI GEDUNG GUMANTI
3.PAKSI BUMI AGUNG
4.PAKSI PEMANGGULAN
5.PAKSI MIRAKBATIN.

Marga-Marganya antara lain Marga BUAY TUNANG dan Marganya BUNGA MAYANG dan ADAT PEPADUN NEGERI BESAR WAY KANAN dengan Marganya BAHUGA dan PAMUKA. Adat Pepadun di daerah ini pun dalam pemakain dan pelaksanaan adatnya juga sangat sering sekali, disiplin dan kuat dalam mempertahankan keaslian Adat, bahkan Rakyat dan Masyarakat Adat, mereka sangat patuh dan setia pada Pimpinan Adat / Penyimbang Adat, hormat dan kagum kita pada kedua daerah ini, mereka benar-benar menganggap seorang Pimpinan Adat Laksana seorang Raja yang harus ditaati dan dipatuhi.

Pada dasarnya ADAT PEPADUN ini memakai system DEMOKRASI, Musyawarah untuk Mufakat, Mufakat untuk kebulatan dan kepaduan, bukankah PEPADUN berasal dari PEPADUN artinya padu, bulat, lain haknya Adat SEBATIN yang merupakan Adat Tunggal, Adat turun temurun yang lebih mendekati system Kerajaan.

Penulis sekali lagi mengucapkan maaf pada para Penyimbang-penyimbang/pemuka-pemuka Adat Pepadun andaikan dalam-dalam membicarakan tentang Adat Pepadun, ada yang lebih dan ada yang kurang baik dalam menyebutkannya maupun dalam menuturkannya, sebab sudah di katakan sebelumnya, bukan maksud penulis untuk mengungkap Adat Pepadun, sekedar pelengkap dari pada RIWAYAT SEJARAH TULANG BAWANG, mengapa penulis katakan RIWAYAT tidak langsung SEJARAH TULANG BAWANG, karena dalam pengungkapkannya berdasarkan Cerita turun temurun (RIWAYAT) dan berdasarkan SEJARAH (tertulis), maka disebut “RIWAYAT SEJARAH TULANG BAWANG

Be the first to comment
    

Tentang Adat Pepadun di Lampung

Posted 02/22/2014 By edho65

adat pepadunDiatas telah disinggung bahwa Adat Pepadun,  sudah ada sejak zamannya Kerajaan Tulang Bawang pada abad ke V / VI dahulu, hanya sekarang sudah disempurnakan dari bentuk asalnya yang masih sangat sederhana sekali. Sekali lagi penulis mohon maaf pada para penyimbang-penyimbang Adat PEPADUN di Tulang Bawang Lampung Utara terutama Penyimbang-penyimbang Adat dari Marga Tegamo’an, Buay Bulan, SWAI Umpu dan Haji.

Penulis sekedar melengkapi dari pada sasaran pokok Riwayat Sejarah Kerajaan Tulang Bawang, bukan sekali-kali penulis maksudkan akan mengupas tentang Adat Pepadun dalam daerah ini, justru itu dalam menyinggung Adat kalau ada yang lebih atau yang kurang kiranya dapat dimaafkan dan dapat dimaklumi.

Adat adalah suatu kebiasaan yang berulang kali berlaku pada suatu daerah, kelompok, klan, atau suku. Kebiasaan yang berlaku ini diatur sedemikian rupa akhirnya dipatuhi dan ditaati oleh anggota dari kelompok, klan, suku dari suatu daera, setelah dipatuhi olehpara anggota klan tersebut timbullah suatu sanksi atau ancaman hukuman dari para anggota yang melanggarnya.
Oleh karena itu ADAT sebenarnya adalah suatu peraturan yang mengatur pergaulan hidup sehari-hari bagi kelngsungan hidup bermasyarakat darisuatu kelompok, klan, suku dan membesar lagi sesuatu daerah.

Read the remainder of this entry »

Be the first to comment
    

Kerajaan Tulang Bawang, tidak seperti Peninggalan-peninggalan Kerajaan-kerajaan lain, seperti Batu-batu bertulis, Keris, Babat lama, Benda-benda purba tidak ada kesemuanya dan inilah yang menyebabkan kesukaran-kesukaran kita menggali Kerajaan ini dalam memberikan penemuan yang sebenarnya, dan inilah sebabnya penulis pada pembukaan Cerita Riwayat Sejarah Kerajaan ini, mengatakan ia mempunyai sifat-sifat khas ketentuan-ketentuan khusus.

Kalau memang Kerajaan ini seperti Kerajaan Hindu lainnya yang mempunyai pembuktian-pembuktian, peninggalan-peninggalan, tentu penulis tidak kebagian seperti ini, telah didahului oleh ahli-ahli sejarah untuk mengungkapnya lagi kalau memang sudah terungkap seperti itu.

Peninggalan-peninggalan yang ditinggalkannya berupa:

1. TANAH / DAERAH :

Segala tanah yang didiami oleh keempat marga di daerah Tulang Bawang itu adalah tanah bekas Kerajaan Tulang Bawang, oleh karena itu keluar ia mempunyai batas-batas tertentu, Lebih jelas lagi batas-batas itu digariskan oleh apa yang dinamakan PAKSI EMPAT ( 4 Paksi ) oleh Pemuka-pemuka Adat Pepadun yang ada di Lampung Utara.

Read the remainder of this entry »

Be the first to comment
    

Cikal bakal Raja Tulang Bawang mulai dari Vietnam Bangsa Hindu ini secara berkelompok dan bergelombang-gelombang ke Indonesia, ada yang ke Sumatera, ke Sulawesi, ke Jawa, ke Kalimantan, dan ke Bali. Yang ke Sumatera diantaranya Kerajaan Tulang Bawang, Kerajaan Melayu, dan Kerajaan Sriwijaya. Yang menjadikan Kerajaan Tulang Bawang ini adalah kelompok yang pertama kali sampai kebukit Pesagi, dari gelombang-gelombang yang berikutnya menetap di SEKALA BERAK sekarang.

Dibukit Pesagi beratus-ratus tahun mereka bertempat disini, karena pengaruh musim dan desakan dari gelombang yang menyusul berikutnya, akhirnya mereka menyusur hulu Sungai Tulang Bawang sampai kemuaranya, mencari dimana tempat yang baik dan subur untuk tanah peladangan.Dibukit tidak mungkin mereka akan bertahan, pertama tidak cocok karena pengaruhnya iklim, kedua adanya perpindahan-perpindahan kemudian sudah banyak yang menetap disana maka mereka pindah kesungai Tulang Bawang.

Read the remainder of this entry »

Be the first to comment
    

Siapakah Hi Pejurit Hidayatullah

Posted 01/29/2014 By edho65

Dalam buku Basati dkk, hal 88 Buku Kewarganegaraan Negara, hasil yang didapat MINAK KEMALA BUMI ( Hi Pejurit Hidayatullah) di Mekkah diterapkan beliau di Lampung.

Disamping penyebaran Agama Islam beliau dirikan mesjid-mesjid. Kampung-kampung misalnya kampung Jeddah, kampung Medinah, dan kampung Mesir, begitu juga sebuah Gunung yang bernama Subhanallah, beliaulah yang menamakan Gunung ini dengan kebesaran Tuhan .

Tentang nama beliau ini banyak sekali diantaranya :

1.MINAK PATI PEJURIT (sebutan orang-orang Pagar Dewa)
2.MINAK PATI PAJURIT/ MINAK PATI URIP (sebutan orang-orang Banten)
3.RATU PESAGI (sebutan orang-orang tertentu dalam ilmu kebatinan)
4.Hi. PEJURIT HIDAYATULLAH (sebutan ketika beliau kembali dari Mekkah)
5.MINAK KEMALA BUMI (Nama beliau yang dikenal oleh kalangan sejarah)
6.Hi. Pejurit Hidayatullah Kang Gerebeh mangku Tulang Bawang ( nama beliau dari orang-orang tertentu dalam ilmu kebatinan) menunjukkan bahwa beliaulah Raja Tulang Bawang yang terakhir
7.Hi. PEJURIT SAKTI HIDAYATULLAH (menurut ramalan yang datang pada juru kunci makam beliau sekarang).

Read the remainder of this entry »

Be the first to comment