Berkenaan dengan tulisan yang ada pada website ini, silahkan bisa menghubungi Penulis Hi. Assaih Akip di Telp . 0721 470231
Powered by MaxBlogPress  

GoogleTranslate
Travaga - KotakAnimasi2
Adsense Indonesia

Kurs Valuta Asing
Inikah Yang Anda Cari ?
www.flickr.com
edward_spi's items Go to edward_spi's photostream
Edward Yunani

Buat Lencana Anda
Web hosting dan domain gratis untuk website di IdeBagus
Anda Pengunjung yang ke :

bakugan

free counters
Share on Facebook

Setelah kita mengikuti Risalah kecil ini tentang Riwayat Sejarah Kerajaan Tulang Bawang, maka kita dapat mengambil suatu Kesimpulan sebagai berikut :
1. Tempat Keraton Kerajaan Tulang Bawang diperkirakan disekitar Pendukuhan.
2. Raja Tulang Bawang yang pertama diperkirakan MAULANO AJI/ MAULANA HAJI Tahun 623 M.
3. Raja Tulang Bawang yang terakhir adalah MINAK PATI PEJURIT gelar MINAK KEMALA BUMI.
4. Adat Imigrasi / Transmigrasi sudah ada sejak zamannya Kerajaan Tulang Bawang.
5. Demokrasi dan Hak Azazi Manusia sudah ada sejak Zamannya Minak Kemala Bumi.
6. Penyebaran Agama Islam di Lampung adalah MINAK KEMALA BUMI.
7. Hubungan antara Lampung dengan Banten, Lampung dengan Palembang, Pagar Dewa Tulang Bawang dengan Kedamaian Balau sudah ada sejak zamannya MINAK KEMALA BUMI.
8. Pulau Pejurit didekat Tanjung Tua diperkirakan berasal dari nama MINAK PATI PEJURIT.
9. Kampung Mesir, Jeddah, dan Madinah adalah MINAK PATI PEJURIT pendirinya dan yang menamainya ( Menurut Buku Kewarganegaraan Negara Karangan Basati dkk )
10. Penyampaiannya cita-cita Minak Kemala Bumi pada abad ke XX dibidang Demokrasi melalui Adat adalah Raja Tegamo’an dan di bidang Agama Islam melalui pendidikan adalah Kiyai Hi. UMAR MURAD.

Share on Facebook

Kita baru saja membicarakan peninggalan-peninggalan Kerajaan Tulang Bawang, sekarang kita beralih kepada peninggalan-peninggalan Minak Kemala Bumi. Peninggalan-peninggalan Minak Kemala Bumi ini tidak banyak tapi cukup memberikan arti dan pengertian kepada kita yang ditinggalkan beliau sampai pada zaman-zaman yang mendatang.

Antara lain peninggalan-peninggalan beliau adalah :

1. Agama Islam

2. Hak Azazi Manusia

3. Demokrasi

4. Keturunan / Kebudayaan

 

Agama Islam adalah Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Lebih kurang pada XIV abad yang liwat, ajaran ini dibawa oleh junjungan kita Muhammad Rasullulah SAW. Bukan untuk sekelompok manusia, bukan untuk satu massa atau satu zaman, Agama ini adalah untuk seluruh Umat Manusia di Dunia ini dan untuk setiap zaman sampai hari Kiamat.

Pada tahun 1554/1555 Minak Kemala Bumi mendatangi tempat lahirnya Agama Islam dan tempat kelahiran pembawa Agama ini yaitu Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah. Di kota ini Minak Kemala Bumi memancarkan sinar Agama Islam ke Lampung, dimana sampai pada dewasa ini Rakyat Lampung hampir V abad digembleng dan dididik oleh Agama pengatur Dunia dan pengatur Akhirat.

Agama yang menetapkan tidak ada pilihan lain selain dari Allah lah yang wajib disembah. Agama Islam mengatur hubungan-hubungan antara Allah dengan Rasulnya, antara Allah dengan Manusia dan antara Manusia sesamanya.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Bagi Rakyat Daerah Tulang Bawang terjadinya Transmigrasi yang ada didaerah ini sekarang bukanlah suatu hal yang aneh dan baru, Transmigrasi/Imigrasi di daerah Tulang Bawang sudah dikenal sejak perpindahan Bangsa Hindu pada abad ke V M yang lebih kurang sudah XV abad yang silam.

Oleh karena itu bagi Rakyat dan daerah ini tidak lagi terkejut, apakah lagi menjadi keheranan atas adanya Transmigrasi sekarang ini yang secara besar-besaran dibuka di daerah Tulang Bawang. Memang pada dasarnya Transmigrasi dahulu dan Transmigrasi sekarang terdapat perbedaan-perbedaan, namun demikian bukan itu yang menjadi persoalan.

Transmigrasi dahulu disamping penghidupan sehari-hari mereka pindah kesuatu tempat berdasarkan karena di desak dan terdesak oleh sesuatu Suku Bangsa, sedangkan Transmigrasi sekarang tidak demikian halnya, semata-mata menghindarkan diri dari tempat yang telah padat penduduknya ke tempat yang masih jarang penduduknya, dari tempat yang minus ke tempat yang surplus, dari tempat yang tandus ke tempat yang subur dan dari tempat yang kering ke tempat yang basah.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Timbul pertanyaan dalam hati para pembaca, mengapa dalam risalah kecil ini Pagar Dewa dengan Marga Tegamo’an seolah-olah memonopoli dalam jalannya Kisah Kerajaan Tulang Bawang?

Apakah penulis dari Kerajaan Tulang Bawang ini adalah orang Pagar Dewa dan Marga Tegamo’an, atau penulisnya didalangi oleh tokoh Marga Tegamo’an dan pemuka-pemuka Kampung Pagar Dewa? Tidak demikian yang sebenarnya.

Dalam mengisahkan suatu Cerita lebih-lebih cerita itu berbarusan sejarah, si pengarang harus sportif dan satria dalam membentang cerita yang sebenarnya, dikarenakan sudah demikian halnya, maka dalam cerita ini terpaksa yang sebenarnya lah yang harus diutarakan.

Hal ini bukan dibuat-buat, kenyataannya memang demikian, misalnya pembagian Paksi 4 tanyakan saja pada Paksi II Negeri JUNGKARANG, Paksi III Negeri Besar dan Paksi IV KOTA BUMI, mengapa sampai dengan Paksi I Pagar Dewa mereka berhadapan? Demikian juga Marga Tegamo’an tanyakan saja pada Paksi 2 ini Pemuka-pemuka Adat di Terbanggi? dan kepada MARGA BUAY BULAN, SWAI UMPU, dan MARGA HAJI sendiri tanyakan sajalah mengapa mereka selalu menomorsatukan setiap membicarakan masalah Adat dalam Upacara Adat/Upacara Perkawinan yang pertama.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Adat Pepadun Mego Pak ini kelihatannya sangat Demokratis sekali, justru itu dalam pelaksanaannya dan pemakain Adatnya tidak begitu disiplin seperti yang terdapat pada Adat Pepadun didaerah-daerah lainnya di Lampung. Disini memakai istilah Perabung/Dirabung segala yang menyangkut dengan uang-uang adat, maksudnya agar tidak begitu sulit dan berliku-liku dalam pelaksanaannya ia berpedoman “Lancar , Cermat, dan Selamat”.

Demikian tentang uang Adat tidak dipergunakan peng Kursan atau Penyesuai uang, misalnya terdengar istilah Empat Likur ratus (PAK LIKUR GATUS) atau Rp.2.400,– Wobelas Gatus atau Rp.1.200,– dan Enam Gatus atau Rp.600,– ini mata uang Zaman Belanda, kalau di Kurs dengan uang kita sekarang, maka setidak-tidaknya Rp.2.400,– menjadi Rp.2.400.000,–. Rp.1.200,– menjadi Rp.1.200.000,– dan Rp.600,– menjadi Rp.600.000,–.

Mengapa sampai tidak diadakan pengkursan,diatas telah di katakan Mego pak ini sangat demokratis segala yang dapat di mudahkan di permudah, agar orang-orang yang lemah keuangannya dapat mengikuti adat jangan sampai mereka tidak dapat mengikuti atau menikmati adat yang sudah menjadi waris kita bersama. Kalau dengan angka-angka di atas jelas yang dapat menjadi seorang seorang penyimbang dapat di hitung dengan jari,demikian juga kalau jujur seorang gadis dengan angka-angka di atas jelas banyak bujang tua di Mego Pak (Menganai Tohou).

Bersambung……….. »

Share on Facebook

1.Unyai, 2. Unyi, 3. Nuban, 4. Beliuk, 5. Kunang, 6. Anak Tuho, 7. Selagai, 8. Nyerupa, dan 9. Subing bahkan dari Marga Subing ini yang paling terkenal SUBING menduduki nomor urut 4 karena ia dari keturunan laki-laki.

Unyai mengikuti WAY RAREM, UNYI mengikuti WAY SEPUTIH, NUBAN mengikuti WAY BATANG HARI, dan SUBING mengikuti WAY PENGUBUAN TERBANGGI.

Dapat dikatakan ADAT PEPADUN ABUNG SEWOU MEGO ini sangat fanatik sekali/keras, disiplin dan terikat sekali dalam pelaksanaan dan penggunaan daripada ADAT. Terbukti dalam peng kurs uang jujur, uang adat, mereka sebenarnya tidak mengenal istilah Perabungan atau mereka akan melakukan suatu hajatan peralatan perkawinan harus dibuat dikampung asal mereka.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Adat Pepadun ini sebenarnya adalah suatu kelanjutan dari adat yang telah ada, sejak adanya Keratuan di Lampung. Sebelum kita meneruskan hal adat ini, penulis bentangkan kembali kembalinya Kerajaan Tulang Bawang dan Keratuan di Lampung ini.

Diatas telah kita bicarakan bahwa Kerajaan Tulang Bawang ini asalnya perpindahan Bangsa Hindu dari Pegunungan Himalaya, yang oleh para ahli Sejarah diadakan pencatatan sekitar abad ke V/VI M. Perpindahan ini berkelompok-kelompok dan bergelombang-gelombang antaranya ratusan tahun antara gelombang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Diperkirakan gelombang yang paling terdahulu ada di bukit PESAGI dan dari sini menyusur hulu sungai Tulang Bawang, yang kemudian menjadikan Kerajaan Tulang Bawang, kelompok kedua, ketiga dan seterusnya ada di SKALA BERAK dan menjadikan Kerajaan SKALA BERAK.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Diatas telah disinggung bahwa adat kita ini sudah ada sejak zamannya Kerajaan Tulang Bawang pada abad ke V/VI dahulu, hanya sekarang sudah disempurnakan dari bentuk asalnya yang masih sangat sederhana sekali. Sekali lagi penulis mohon maaf pada para penyimbang-penyimbang Adat PEPADUN di Tulang Bawang, Lampung Utara terutama Penyimbang-penyimbang Adat dari Marga Tegamo’an, Buay Bulan, SWAI Umpu dan Haji.

Penulis sekedar melengkapi dari pada sasaran pokok Riwayat Sejarah Kerajaan Tulang Bawang, bukan sekali-kali penulis maksudkan akan mengupas tentang Adat Pepadun dalam daerah ini, justru itu dalam menyinggung Adat kalau ada yang lebih atau yang kurang kiranya dapat dimaafkan dan dapat dimaklumi.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

 

cooltext410662801MouseOver Peninggalan-peniggalan Kerajaan Tulang Bawang ini tidak seperti Peninggalan-peninggalan Kerajaan-kerajaan lain, seperti Batu-batu bertulis, Keris, Babat lama, Benda-benda purba tidak ada kesemuanya dan inilah yang menyebabkan kesukaran-kesukaran kita menggali Kerajaan ini dalam memberikan penemuan yang sebenarnya, dan inilah sebabnya penulis pada pembukaan Cerita Riwayat Sejarah Kerajaan ini, mengatakan ia mempunyai sifat-sifat khas ketentuan-ketentuan khusus.

Kalau memang Kerajaan ini seperti Kerajaan Hindu lainnya yang mempunyai pembuktian-pembuktian, peninggalan-peninggalan, tentu penulis tidak kebagian seperti ini, telah didahului oleh ahli-ahli sejarah untuk mengungkapnya lagi kalau memang sudah terungkap seperti itu.

Peninggalan-peninggalan yang ditinggalkannya berupa:

1. TANAH/DAERAH :

Segala tanah yang didiami oleh keempat marga di daerah Tulang Bawang itu adalah tanah bekas Kerajaan Tulang Bawang, oleh karena itu keluar ia mempunyai batas-batas tertentu, lebih jelas lagi batas-batas itu digariskan oleh apa yang dinamakan PAKSI EMPAT ( 4 Paksi ) oleh Pemuka-pemuka Adat Pepadun yang ada di Lampung Utara.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Mengapa sampai berubah Maulano Jadhi menjadi Maulano Haji, Jalan ceritanya sebagai berikut :

Didunia ini ada tiga Negara besar yang mendapat pengaruh dari Negara Arab karena hubungan dagang dan penyebaran Agama Islam, antara lain : Negara Cina, Negara India, Negara Turki bahkan menurut literatur Tiongkok, Sumatera Utara Islam pada  tahun 684 M. abad ke VII, yang sama halnya tahun pertama Hijrah, jelas disini pengaruh Islam memang sudah lama ada di Sumatera yang hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Tulang Bawang ini, malahan menurut buku Sejarah Marzuki dkk. Menetapkan bahwa Kerajaan ini adanya pada abad ke VII.

Nyata disini bersamaan dengan datangnya Islam  di Sumatera Utara maka datanglah orang-orang ini dari India sana ke sungai Tulang Bawang.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Dari Vietnam Bangsa Hindu ini secara berkelompok dan bergelombang-gelombang ke Indonesia, ada yang ke Sumatera, ke Sulawesi, ke Jawa, ke Kalimantan, dan ke Bali.

Yang ke Sumatera diantaranya Kerajaan Tulang Bawang, Kerajaan Melayu, dan Kerajaan Sriwijaya. Yang menjadikan Kerajaan Tulang Bawang ini adalah kelompok yang pertama kali sampai kebukit Pesagi, dari gelombang-gelombang yang berikutnya menetap di SEKALA BERAK sekarang.

Dibukit Pesagi beratus-ratus tahun mereka bertempat disini, karena pengaruh musim dan desakan dari gelombang yang menyusul berikutnya, akhirnya mereka menyusur hulu Sungai Tulang Bawang sampai kemuaranya, mencari dimana tempat yang baik dan subur untuk tanah peladangan.

Dibukit tidak mungkin mereka akan bertahan, pertama tidak cocok karena pengaruhnya iklim, kedua adanya perpindahan-perpindahan kemudian sudah banyak yang menetap disana maka mereka pindah kesungai Tulang Bawang.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Buku-buku sejarah yang dikarang oleh orang-orang penting pada umumnya mengatakan bahwa Kerajaan Tulang Bawang itu berdiri pada abad ke V M. oleh pengawal Sejarah Angkatan Lama, oleh pengarang-pengarang Sejarah Angkatan Baru pada umumnya mengatakan berdirinya Kerajaan Tulang Bawang itu pada abad ke V/VII M.

Dari penentuan abad berdirinya Kerajaan inipun antara satu Pujangga dengan Pujangga lainnya, antara satu pengarang Sejarah dengan pengarang Sejarah lainnya bebeda-beda pendapat, bukankah ini suatu hal menunjukkan bahwa benar-benar dalam penggalian Sejarah Kerajaan ini memang sulit dan liku sekali.

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Pada pertengahan cerita jalannya riwayat sejarah kerajaan ini, telah kita dapati Raja Tulang Bawang pada abad ke XV/XVI ialah MINAK PATI PERAJURIT gelar MINAK KEMALA BUMI.

Beliau adalah Raja Tulang Bawang yang terakhir, beliau puala Raja Islam Pertama di Lampung.

Minak Kemala Bumi hidup antara dua zaman, zaman berakhirnya Agama Hindu di Lampung dan zaman permulaan Islam di Lampung, jelas disini bahwa beliau hidup dalam zaman transasi, zaman peralihan dari Hindu ke Islam.

Diatas telah kita temukan bahwa Raja Tulang Bawang Hindu pada abad ke XV tidak lain adalah MINAK KEMALA BUMI, maka sekarang kita akan mencari siapa Raja Tulang Bawang pertama kali ( abad ke VI M. )

Bersambung……….. »

Share on Facebook

Mujahidin besar untuk daerah Lampung MINAK KEMALA BUMI telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Hi. Pejurit Hidayatullah telah pergi ke kampung Abadi, suatu perkampungan yang tiada akan rusak oleh bencana apapun juga.

Kapankah beliau wafat dan dimana dimakamkan pemimpin Islam, Raja penutup Kerajaan Tulang Bawang, yang selama ini tabir riwayatnya tersembunyi di malam-kelam dari sorotan sejarah buku Kebangsaan.

Tahun, tanggal, hari dan jam kepulangan beliau ini kedaerah asalnya tak satupun yang dapat memberikan penjelasan yang konkret, dikira-kirakan ujung akhir abad ke XV M.

Beliau tak ingin namanya tercantum dalam buku penjelajahan Belanda yang menginjakkan kakinya pertama ke Bumi Indonesia pada tahun 1602 (VOC) yang menanamkan penjajahan di bidang ekonomi

Adapun makam beliau berada disuatu kampung yang terpencil dan sunyi dari dunia ramai, jauh dari segala perhubungan, suatu desa yang berkesedihan sepanjang zaman merintih meratap mengingatkan kebesarannya pada masa silam.

Bersambung……….. »

Share on Facebook